Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
About me Facebook Page Facebook Grup
Eramuslim Hidayatullah Arrahmah Voa Islam Underground Tauhid Khilafah.com Jihadwatch.org Islamcity.com
Jurnal Haji MakkahTv live Wisata Haji Media Haji Spirit Haji
Digital Haji Streaming Software Alharam-Nabawi Ceramah kristolog Ceramah Yahya waloni Purgatory: Beauty Lies Beneath Hiphop Native Deen Dialog Muallaf-Murtad Kajian Islam-kumpulan hadits qudsi DOWNLOAD GRATIS EBOOK ALQUR'AN DAN KITAB-KITAB PENGARANG TERKENAL FREE DOWNLOAD EBOOK KRISTOLOGI
Fakta [area] Kisah [area] Kritisi [area] Motivasi [area] Mukhasabah [area] Muslimska [area] Sejarah [area] Puisi [area] Samara [area]
12.12.12 | Rabu, Desember 12, 2012 | 0 Comments

POHON MANGGA & ANAK KECIL

Alkisah ada sebuah pohon mangga besar tumbuh di pekarangan sebuah rumah. Anak kecil di keluarga tersebut suka bermain di sekitar pohon itu setiap hari. Memanjatnya, makan buah mangganya langsung ketika berbuah dengan banyaknya, atau sekadar tidur di bawahnya saat panas terik.


Tak terasa waktu pun berlalu. Anak ini menjadi remaja. Suatu hari, ia menghampiri pohon mangga tersebut.


"Ayo kita bermain lagi seperti dulu,"
ajak pohon mangga.


"Wah, ane bukan lagi anak kecil, Sudah bukan jamannya lagi habiskan waktu dengan memanjat pohon saja. Sekarang ane lagi bingung, butuh uang untuk melamar calor ane."


"Tapi..aku hanya sebatang pohon mangga, yang nggak punya uang. Tapi kalau kamu mau, silahkan ambil semua buah mangga di badanku ini dan menjualnya. biar kamu punya uang untuk ngelamar calon kamu."


Anak itu gembira bukan kepalang, ia lantas memetik semua buah mangga di pohon itu tanpa bersisa dan pergi kepasar untuk menjualnya terus ketoko emas untuk membeli cincin guna melamar calonnya.


Anak itu tak pernah kembali memperhatikan sang pohon mangga, walau sekedar mengajaknya ngobrol-ngobrol hal sepele dibawah rindangnya.



Bertahun-tahun berlalu, anak itu kini sudah menjadi lelaki dewasa. Suatu hari ia datang lagi menghampiri pohon mangga tersebut.


"Sekarang kamu sudah dewasa ya., masih adakah waktu untuk bermain sekedar mengenang masa lalu?" tanya pohon mangga tersebut.


"Ane udah nggak punya waktu untuk itu. ane harus bekerja untuk menghidupi anak dan istri ane. Dan sekarang ane sedang bingung karena kami tak punya rumah untuk berteduh."


"Oh kasihan.. Tapi kalau kamu mau silahkan potong sebagian cabang-cabangku dan bisa jadikan bahan kamu mendirikan rumah untuk keluargamu."


"Benarkah?" tanya pria tersebut.


"Iya.." Jawab sang pohon.


Ia pun mengambil gergaji mesin dan memotong semua cabang (bukan sebagian seperti yang disuruh sang pohon) hingga hanya tersisa batang utama saja. Pria itu lalu pergi membangun rumahnya dan tak pernah kembali.



Setelah bertahun-tahun kemudian, tiba-tiba pria ini kembali lagi. Sebagian rambutnya sudah berwarna keputih-putihan tanda usia yang udah menginjak LANSIA.


"Apa kabar, sobat?" sapa pohon mangga yang kini tanpa dedaunan lagi dan sedikit berbuah, karena cabang-cabangnya udah nggak selebat dulu lagi.


"Baik, pohon mangga Sekarang ane sudah pensiun, dan ingin menikmati masa tua dengan berlayar sambil memancing."


"Oh aku tahu..," tebak sang pohon mangga.


"Silahkan, bila kamu mau pakailah batang utama di tubuh aku ini dan jadikan biduk untukmu mengarungi sungai dan memancing."


"Ah, good idea.., sekali lagi terima kasih," sahut pria tersebut sambil jalan mengambil kapak.


Tanpa basa-basi Ia pun mulai menebang batang pohon mangga tersebut lalu dijadikannya biduk. Sang pohon mangga terlupakan lagi. Walau perasaannya sungguh sedih, namun dibiarkan pria itu pergi.



Kini, setelah hampir 70 tahun berlalu, seorang pria tua renta dengan tongkat ditangan kanannya pulang kembali ke rumah masa kecilnya. Tiba-tiba ia tersandung sesuatu. Ternyata akar pohon mangga yang tersisa.


"Oh rupanya kamu pohon mangga yang dulu," ujar pria tua tersebut.

"Apa kabar kawan masa kecil?"


"Sekarang aku cuma tinggal akar tua tersisa, tidak bisa mengajakmu bermain atau berteduh di bawah rimbun daunku lagi serta memberimu buah-buah yang legit yang bisa kamu nikmati" ujar sang pohon mangga.


Pria tersebut hanya terdiam dan duduk di salah satu akar sang pohon mangga. Dari matanya mengalir air mata bening, menitik jatuh di antara keriput wajahnya, tanda penyesalannya yang egois selama ini.

           
                        ****


Pesan dari kisah ini


Pohon mangga melambangkan orang tua kita. Demikianlah, saat kita kecil senang bermain dengan ayah dan ibu. Seraya remaja dan dewasa kita meninggalkan mereka. Hanya sesekali datang pada mereka saat membutuhkan pertolongan.Walau demikian, orang tua kita tetep seperti pohon mangga tersebut, selalu rela menolong dan berkorban agar kita bisa keluar dari segala kesulitan bagaimanapun caranya, sekalipun harus mengorbankan nyawanya.

Kasih sayang orang tua memang tiada batas "kasih orang tua sepanjang jaman, kasih kita (anak) cuma sepanjang jalan".



Semoga kita tidak seperti anak dalam cerita yang mengambil manfaatnya saja lantas melupakan sang pohon mangga begitu saja. Kita sebagai anak sudah sepantasnya mau menghargai dan merawat orang tua agar masa tua mereka tak berakhir sedih laksana akar-akar pohon mangga yang tersisa.



Wallahua'lam.

0 Comment [area]:

 
[muslimska]MOONER area © 2010 - All right reserved - Using Copyright: hanya mutlak Punya Allah SWT
WARNING: keseluruhan isi blog ini free copy paste tanpa perlu izin penulis..Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu akbar