Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
About me Facebook Page Facebook Grup
Eramuslim Hidayatullah Arrahmah Voa Islam Underground Tauhid Khilafah.com Jihadwatch.org Islamcity.com
Jurnal Haji MakkahTv live Wisata Haji Media Haji Spirit Haji
Digital Haji Streaming Software Alharam-Nabawi Ceramah kristolog Ceramah Yahya waloni Purgatory: Beauty Lies Beneath Hiphop Native Deen Dialog Muallaf-Murtad Kajian Islam-kumpulan hadits qudsi DOWNLOAD GRATIS EBOOK ALQUR'AN DAN KITAB-KITAB PENGARANG TERKENAL FREE DOWNLOAD EBOOK KRISTOLOGI
Fakta [area] Kisah [area] Kritisi [area] Motivasi [area] Mukhasabah [area] Muslimska [area] Sejarah [area] Puisi [area] Samara [area]
9.12.11 | Jumat, Desember 09, 2011 | 0 Comments

Say No To "TAPI"

“Selalu ingin berbagi”. Lagi-lagi itulah alasan saya menulis catatan ini.. 
Bukankah mengungkap rasa tak harus selalu dengan bicara???


Tulisan ini terinspirasi dari ‘curhat’ seorang sahabat yang keluhnya tak pernah tamat yang selalu terUpdate di status FBnya, atau dengan kata lain ‘GAK ADA ENDINGNYA’. Ceritanya itu.. itu aja, atau dalam bahasa Lampungnya “ijow-ijow gawoh”, atau dalam bahasa Jawanya “iku-iku wae”, atau dalam bahasa Minangnya “iko ka iko jo lai”, intinya sih sama. (hehe,, yang curhatnya kurang kreatif niihh..) Mencoba menghindari kata ‘bosan’ sihh.. Tapi juga bikin instrospeksi diri. Ini kliennya yang nggak kreatif atau konselornya yang kurang professional ???? (Mikir.com)

Studi kasus sedikit ya… Sebut saja namanya Miss. Je
Singkatnya sihh,, Miss.Je cuma ingin bisa merubah perilaku, sikap dan pola pikirnyanya yang menurutnya ‘kadang-kadang’. Kadang-kadang ia punya semangat tinggi, ia yakin ia bisa sukses, ia bisa melakukan apa yang ia inginkan, ia juga yakin bisa mewujudkan apa yang ia cita-citakan. Ia bahkan bisa dengan menggebu-gebu menceritakan perencanaan kehidupannya yang ‘sangat matang’ menurutku. Sayangnya,, semua itu cuma kadang-kadang. Karena kadang-kadang juga, semua semangat dan keyakinannya tiba-tiba hilang, se-ke-ti-ka sebelum aplikasi. Dan suatu saat nanti,, entah dari arah mana, semangat dan keyakinan tentang dirinya itu bisa muncul kembali. Hemmhh,, kok bisa ya?? Muncul tanda tanya besar dalam pkiran saya. Selidik punya selidik akhirnya analisa sederhana saya berujung pada sebuah kesimpulan. Maka, bukan mengenai Miss. Je yang ingin saya bahas di sini. Saya justru ingin mengajak semua mencoba menganalisa dari sisi lain. Ini tentang makna kalimat yang terungkap selama proses komunikasi dengan Miss. Je. Coba cerna beberapa kalimat Miss.Je yang sempat terekam dalam memori otak saya. 

“Saya yakin saya bisa!! Tapi,, kadang saya kurang percaya diri..”
“Iya.. Saya harus selesaikan tugas itu malam ini juga !! Tapi,, kenapa males ya..”

Itu baru dua contoh kalimat yang terucap dari mulut Miss.Je. Setelah sebelumnya ia mengungkapkan panjang lebar mengenai berbagai hal yang ingin dan yang akan ia lakukan. Coba baca kalimat tersebut sekali lagi dan pahami maknanya. Dimana letak kesalahannya?? Yupp,, kesalahannya terletak pada kata TAPI setelah kalimat pertama. Tepatnya, kata TAPI setelah kalimat positif. Seharusnya tak ada kata TAPI setelah kalimat positif karena hanya akan melemahkan. Sekarang kita ambil contoh kalimat sederhana lainnya..

“miss. Je memang cantik siih,, tapi… dia malas”. (tolong dibaca dengan ekspresi wajah yang tepat ya…)

Kata ‘cantik’ adalah kata positif. Tapi maknanya bisa terabaikan karena ada kata negatif ‘malas’ setelah kata TAPI. Jelas fokus kita ada pada kata ‘malas’ dan ekspresi wajah kita bisa di pastikan di akhiri dengan kerutan di kening. Kita tidak lagi memikirkan kata ‘cantik’ tapi pikiran kita didominasi kata ‘malas’. Coba, sekarang kita balik posisi kata-kata tersebut, menjadi ..

“Miss. Je memang malas siih,, tapi… dia cantik”

Sekarang, bukankah fokus kita ada pada kata ‘cantik’ ?? dan ekspresi wajah kita pasti diakhiri oleh ‘senyuman’. Itulah sugesti kata TAPI. Penggunaan kata TAPI diiringin intonasi yang pas akan menghapus penekanan kata sebelumnya menjadi penekanan kata sesudahnya. Luar biasa !!! Sangat menarikkan??? Hanya dengan membalik penempatan kata setelah kata TAPI,, makna yang tertangkap oleh pikiran kita jadi berubah. Sekarang, kita coba membalik kalimat yang pernah diungkapkan oleh Miss.Je sebelumnya.

“Saya kurang percaya diri,, tapi.. saya yakin saya bisa!!” dan
“Kenapa males ya?? Tapi.. Saya harus selesaikan tugas itu malam ini juga!!”

Gimana??? Ruhnya bedakan?? Jadi lebih enak toohh..??
Hanya dengan mengubah posisi kata atau kalimat, makna yang ditangkap oleh pikiran kita akan berubah. Lalu, pikiran akan mempengaruhi sikap kita. Pikiran kita yang positif akan mempositifkan sikap kita, sehingga perilaku yang dihasilkan pun akan positif,, Insya Allah…

So,, the conclution is...
Positifkan pikiran kita terhadap segala hal yang ada di sekitar kita. Hindari kata TAPI setelah pikiran positif terlintas di benak kita, dan pastikan ada kata TAPI setelah pikiran negatif menghantui kita. 
Ingat,, salah kita dalam menentukan langkah akan mengubah total arah jalan hidup kita.
Berhati-hatilah terhadap apa yang kita pikirkan, karena apa yang kita pikirkan.. itu yang akan terjadi. Bukankah,, Allah sesuai dengan prasangka hambaNya?? 

Allahualam bissawab..
Saya sangat menyadari bahwa sempurna hanya milik Allah.. Maka tak ada kata ‘wajib’ untuk meyakini bahwa semua ini adalah benar. Tapi tak akan bermanfaat jika apa yang saya sampaikan tidak dicoba untuk dipraktekkan dan untuk dirasakan perubahannya. Tafadol….

0 Comment [area]:

 
[muslimska]MOONER area © 2010 - All right reserved - Using Copyright: hanya mutlak Punya Allah SWT
WARNING: keseluruhan isi blog ini free copy paste tanpa perlu izin penulis..Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu akbar